Sejarah merupakan tonggak dari awal perjuangan untuk diingat kembali sebagai titik tolak perjalanan selanjutnya untuk menuju perkembangan dan kemajuan. Begitu juga yang terjadi pada MINAT.

Berbicara tentang sejarah berdirinya MINAT tidak lepas dari sejarah berdirinya Pon-Pes Al Ihya Ulumaddin. Karena dari Pondok Pesantren inilah MINAT lahir.
Pondok Pesantren didirikan oleh KH. Badawi Hanafi pada bulan Jumadil Akhir 1344 H, bertepatan dengan tanggal 24 November 1925. Pada mulanya pondok pesantren tersebut hanya dikenal dengan nama pondok Kesugihan, kemudian pada tahun 1961 pondok pesantren ini diberi nama PPAI (Pendidikan Pengajaran Agama Islam). Pada perkembangan selanjutnya pada tahun 1983 Pondok Pesantren tersebut berubah nama menjadi Pondok Pesantren Al Ihya Ulumaddin.
KH. Badawi Hanafi wafat pada tanggal 17 Jumadil Akhir 1371 H bertepatan dengan tanggal 17 April 1958. Setelah KH. Badawi wafat, pendidikan dan pengajaran di pondok pesantren Al Ihya ULumaddin diteruskan oleh putra-putra beliau.
Pondok pesantren tersebut adalah lembaga pendidikan islam ala Ahli sunnah wal jama’ah yang didukung oleh masyarakat islam Kesugihan.

MINAT dan Ya BAKII
Pondok pesantren Al Ihya Ulumaddin mempunyai beberapa organisasi, salah satunya adalah Ya BAKII (Yayasan Badan Amal Kesejahteraan Ittihadul Islamiyah).
Ya Bakii didirikan pada tanggal 11 Desember 1971, dengan akte notaris Soetarjo Suematmojo nomor 6 (enam) yang membina pendidikan-pendidikan islam dalam pondok pesantren.
Sebelum Ya BAKII didirikan , sebenarnya MINAT sudah ada, yaitu kurang lebih pada tahun 1950. Pada saat itu, MINAT masih berupa Madrasah Diniyah dengan kurikulum yang masih sangat sederhana, juga belum ada mata pelajaran umum sama sekali.
Pada saat itu madrasah sudah menggunakan sistem klasikal, akan tetapi sistem klasikal yang digunakan masih sangat sederhana dan fasilitas yang digunakan juga masih sangat minim. Dan saat itu tempat belajar mengajar masih menggunakan serambi masjid, aula pesantren dan teras-teras pesantren. Keadaan seperti itu terus berlangsung sampai tahun 1966.
Pada tahun 1966, madrasah ini mulai memasukkan mata pelajaran umum dalam kurikulumnya dan sistem klasikal yang sudah berjalan sebagaimana mestinya, yaitu terdiri dari :
1. Kelas isti’dadiyah (setara dengan SD) untuk putra dan putri, kelas ini khusus menampung siswa yang dari SD sebelum masuk ke kelas satu Tsanawiyah.
2. Kelas I, II, dan III Tsanawiyah (setara dengan SMP) untuk putra dan putri.
3. Kelas I, II, dan III Aliyah (setara dengan SMA) untuk putra dan putri.
Pada saat itu MINAT putra sudah bisa menempati gedung sendiri dan masuk pada pagi hari, dan sejak itu pula madrasah putra sudah bisa mengikuti ujian negara untuk mendapatkan STTB. Sedangkan untuk madrasah putri masih menempati gedung-gedung SMP dan masuk pada sore hari setelah proses belajar mengajar di SMP selesai.
Kondisi seperti ini berjalan cukup lama. Hal ini bukan berarti memprioritaskan madrasah putra, akan tetapi mengingat jumlah siswi pada waktu itu sangat sedikit dan kurangnya dana untuk membangun gedung baru yang khusus untuk madrasah putri, maka pihak Yayasan BAKII sebagai induk dari madrasah ini dan juga membina banyak lembaga pendidikan termasuk didalamnya SMP, memandang perlu memprioritaskan SMP tersebut untuk maju terlebih dahulu.